UPR Kembangkan Teknologi Sabun Ramah Lingkungan untuk Bantu Pemadaman Karhutla di Lahan Gambut
ADMIN VOX MERDEKA
29 Agustus 2026, 18:14 WIB · Diperbarui 09 Oktober 2026 06:00 WIB
VOXMERDEKA, PALANGKA RAYA – Universitas Palangka Raya (UPR) terus mengembangkan inovasi teknologi untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Salah satunya melalui kerja sama dengan Shabondama Jepang dalam pengembangan konsentrat sabun ramah lingkungan yang digunakan untuk membantu proses pemadaman, termasuk pada kebakaran di kawasan lahan gambut.
Kepala UPA Gambut UPR, Dr. Adi Jaya, mengatakan konsentrat sabun tersebut digunakan dengan mencampurkannya ke dalam air dengan konsentrasi sekitar satu persen.
Berdasarkan pengalaman penggunaan di lapangan, larutan tersebut dinilai efektif membantu proses pemadaman api. “UPR saat ini bekerja sama dengan Shabondama Jepang dalam pengembangan dan penggunaan konsentrat sabun ramah lingkungan untuk pemadaman karhutla.
Konsentrat tersebut dicampurkan dengan air pada konsentrasi sekitar satu persen dan berdasarkan pengalaman di lapangan terbukti efektif membantu proses pemadaman, termasuk pada kebakaran di lahan gambut,” ujar Dr.
Adi Jaya, Sabtu (29/8/2026). Namun, pengembangan teknologi tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait ketersediaan produk.
Saat ini, seluruh proses produksi konsentrat sabun masih dilakukan di Jepang sehingga kebutuhan untuk penggunaan di Indonesia harus dipenuhi melalui impor.
Selain proses produksi yang membutuhkan waktu sekitar dua minggu, ketersediaan produk juga dipengaruhi waktu pengiriman dari Jepang ke Indonesia.
Kondisi tersebut membuat penyediaan konsentrat untuk kebutuhan pemadaman di lapangan memerlukan perencanaan yang matang. Untuk mengatasi persoalan tersebut, UPR saat ini tengah berupaya memperoleh Standar Nasional Indonesia (SNI) agar produk tersebut nantinya dapat diproduksi di dalam negeri. “Untuk mengatasi kendala tersebut, UPR saat ini sedang dalam proses memperoleh Standar Nasional Indonesia atau SNI agar produk nantinya dapat diproduksi di dalam negeri.
PASANG IKLAN
DI VOX MERDEKA
Jangkau lebih banyak pembaca di seluruh Indonesia
Dengan demikian, teknologi dan formulasi produknya pada dasarnya sudah tersedia, sedangkan tantangan berikutnya adalah pengembangan sistem produksi dan aplikasinya di Indonesia,” jelasnya.
Selain pengembangan produksi, UPR juga terus melakukan penyempurnaan terhadap metode pencampuran konsentrat sabun dengan air. Evaluasi dilakukan berdasarkan pengalaman penggunaan di lapangan untuk memastikan proses pencampuran berjalan stabil dan konsentrasi larutan sesuai dengan kebutuhan pemadaman.
Saat ini terdapat dua metode yang digunakan dalam proses pencampuran. Metode pertama dilakukan dengan mencampurkan konsentrat sabun dan air terlebih dahulu di dalam embung atau tempat penampungan air.
Setelah tercampur, larutan kemudian dipompa dan disemprotkan menuju lokasi kebakaran. Metode tersebut dinilai mampu membantu proses pemadaman, namun membutuhkan tahapan tambahan karena air harus terlebih dahulu ditampung dan dicampurkan sebelum dialirkan menuju area yang terbakar.
Sementara metode kedua menggunakan sistem pencampuran langsung atau inline. Dalam metode ini, air dari selang dicampurkan secara langsung dengan konsentrat sabun dari galon sebelum dialirkan menuju nozzle untuk digunakan dalam proses pemadaman. “Metode inline secara operasional lebih praktis dan berpotensi meningkatkan efisiensi pemadaman.
Namun, dalam beberapa kali uji coba masih ditemukan kendala berupa aliran balik air ke dalam galon konsentrat sabun,” ungkap Dr. Adi Jaya. Menurutnya, kendala tersebut membuat sistem inline masih terus dievaluasi dan disempurnakan.
Pengembangan diarahkan untuk menjaga kestabilan proses pencampuran, mengontrol konsentrasi larutan, serta memudahkan penggunaan teknologi tersebut di lokasi kebakaran. “Karena itu, sistem inline ini masih terus kami evaluasi dan sempurnakan agar pencampuran dapat berlangsung stabil, konsentrasi larutan tetap terkontrol, dan penggunaannya di lapangan menjadi lebih praktis serta efektif,” ujarnya.
Baca Juga
Prof Bhayu Rhama Terpilih Jadi Rektor UPR 2026–2030, Unggul Telak 37 Suara
Pengembangan konsentrat sabun ramah lingkungan ini menjadi bagian dari upaya UPR dalam memperkuat dukungan teknologi bagi penanganan karhutla, khususnya di kawasan lahan gambut.
Ke depan, pengembangan tidak hanya difokuskan pada efektivitas larutan dalam membantu pemadaman, tetapi juga pada upaya menghadirkan sistem produksi di dalam negeri.
Dengan demikian, ketersediaan produk tidak lagi sepenuhnya bergantung pada proses produksi dan pengiriman dari Jepang. Dengan teknologi dan formulasi yang telah tersedia, UPR kini mendorong pemenuhan standar produksi, pengembangan sistem manufaktur di Indonesia, serta penyempurnaan metode aplikasi di lapangan.
Upaya tersebut diharapkan dapat menghasilkan teknologi pendukung pemadaman karhutla yang lebih praktis, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan penanganan kebakaran, termasuk di lahan gambut. (RR)
Punya pertanyaan tentang berita ini?
Contoh pertanyaan:
Bagaimana menurut Anda tentang berita ini?
4.5 / 5 dari 4 rating
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Berita Terkait
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
Prof Bhayu Rhama Terpilih Jadi Rektor UPR 2026–2030, Unggul Telak 37 Suara
Palangka Raya
Family Empowerment untuk Pencegahan Stunting: FISIP Universitas Palangka Raya Laksanakan Pengabdian di Kelurahan Pahandut
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
Dari Jombang, Tumbuh di Palangka Raya hingga Jadi Rektor UPR, Ini Perjalanan Prof Bhayu Rhama
Hukum & Kriminal