Nur Ghina Muslimah Soroti Polemik Mindfulness Maudy Ayunda: Kesehatan Mental Harus Berjalan Bersama Kepedulian Sosial
ADMIN VOX MERDEKA
15 September 2026, 23:02 WIB · Diperbarui 09 Oktober 2026 08:30 WIB
VOXMERDEKA.ID, JAKARTA – Perdebatan mengenai konten “Mindfulness in the Age of Bad News” yang disampaikan Maudy Ayunda dinilai tidak semestinya berhenti pada persoalan penting atau tidaknya menjaga kesehatan mental.
Polemik tersebut juga membuka diskusi mengenai privilege, sensitivitas sosial, serta perbedaan pengalaman masyarakat dalam menghadapi persoalan dan informasi buruk.
Ketua PB HMI Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Nur Ghina Muslimah, SE., M.Ak., mengatakan bahwa menjaga kesehatan mental merupakan kebutuhan penting.Namun, pesan mengenai self-care juga perlu disampaikan dengan mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat yang beragam. “Menurut saya, persoalannya bukan pada penting atau tidak pentingnya menjaga kesehatan mental.
Mindfulness dan kemampuan mengelola informasi memang dibutuhkan. Tetapi kita juga harus memahami bahwa tidak semua orang memiliki privilege untuk mengambil jarak dari berita buruk, karena bagi sebagian masyarakat, berita tersebut merupakan realitas yang mereka alami secara langsung,” ujar Nur Ghina. Menurutnya, narasi awal Maudy Ayunda berangkat dari persoalan emotional overload akibat paparan bad news serta pentingnya mengelola konsumsi informasi.
Namun, respons publik kemudian berkembang karena muncul pandangan bahwa kemampuan untuk mengambil jarak dari berita buruk tidak dimiliki oleh semua lapisan masyarakat. Nur Ghina menilai pergeseran pembahasan tersebut merupakan bagian penting dalam komunikasi publik.
Terlebih, ketika sebuah pesan personal disampaikan oleh figur publik kepada audiens dengan latar belakang, kondisi, dan pengalaman sosial yang berbeda-beda. “Ketika sebuah refleksi personal disampaikan oleh figur publik, masyarakat bisa membacanya bukan lagi sekadar sebagai pengalaman pribadi, tetapi sebagai sebuah pesan sosial.
Karena itu, konteks menjadi sangat penting. Apa yang mungkin relevan bagi satu kelompok belum tentu relevan bagi kelompok lainnya,” jelasnya. Ia mengatakan, perbedaan pengalaman sosial seharusnya tidak berujung pada polarisasi.
PASANG IKLAN
DI VOX MERDEKA
Jangkau lebih banyak pembaca di seluruh Indonesia
Sebaliknya, perbedaan tersebut dapat menjadi ruang untuk memperluas perspektif sekaligus membangun empati di tengah masyarakat. Dalam konteks tersebut, Nur Ghina juga melihat klarifikasi dan permintaan maaf Maudy Ayunda pada 13–14 September 2026 sebagai bagian penting dari proses komunikasi publik.
Dalam klarifikasinya, Maudy mengakui bahwa kemampuan untuk menjauh dari berita merupakan sebuah privilege, sekaligus menegaskan bahwa mindfulness tidak dimaksudkan sebagai bentuk apatisme. “Saya melihat ada hal positif dari proses klarifikasi tersebut.
Mengakui adanya privilege, meminta maaf atas konteks yang belum cukup tercermin, kemudian melakukan reframing terhadap pesan awal merupakan bentuk tanggung jawab dalam komunikasi publik,” kata Nur Ghina. Lebih lanjut, ia menilai polemik tersebut memberikan pelajaran penting bagi figur publik, influencer, maupun tokoh masyarakat dalam menyampaikan pesan kepada khalayak luas. Menurut Nur Ghina, sebuah personal reflection dapat berubah menjadi social prescription ketika disampaikan kepada masyarakat dalam ruang publik.
Karena itu, pesan mengenai self-care juga perlu mempertimbangkan kondisi kelompok masyarakat yang tidak memiliki pilihan untuk mengambil jarak dari persoalan yang sedang mereka hadapi. Ia menegaskan bahwa mindfulness tidak seharusnya dimaknai sebagai upaya untuk menutup mata terhadap persoalan sosial.
Sebaliknya, kesadaran terhadap diri sendiri semestinya berjalan bersama dengan kesadaran terhadap lingkungan dan kondisi masyarakat. “Mindfulness bukan berarti kita menjadi tidak peduli.
Justru kesadaran terhadap diri sendiri seharusnya berjalan beriringan dengan kesadaran terhadap lingkungan dan kondisi sosial. Kita boleh menjaga kesehatan mental, tetapi jangan sampai kesehatan mental dijadikan alasan untuk kehilangan empati terhadap mereka yang sedang menghadapi persoalan secara langsung,” tegasnya. Nur Ghina juga menilai perkembangan isu tersebut menunjukkan pentingnya kemampuan figur publik dalam membaca keberagaman pengalaman audiens.
Baca Juga
Nur Ghina Muslimah Dorong KPU dan Bawaslu Terbuka dalam Sidang PHPU di MK
Pesan yang berasal dari pengalaman personal perlu disampaikan dengan mempertimbangkan konteks sosial yang lebih luas. Menurutnya, reframing sebuah narasi tidak selalu berarti menarik kembali gagasan awal.
Dalam persoalan ini, gagasan mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental tetap relevan, tetapi perlu dilengkapi dengan kesadaran bahwa kemampuan mengambil jarak dari berita merupakan sebuah privilege yang tidak dimiliki oleh semua orang. “Yang kita perlukan adalah keseimbangan.
Menjaga diri tetap penting, tetapi kepedulian sosial juga tidak boleh hilang. Kita perlu sehat secara mental sekaligus tetap sadar terhadap realitas di sekitar kita,” ujar Nur Ghina. Ia berharap perdebatan mengenai isu tersebut tidak berhenti pada pertanyaan mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah.
Menurutnya, polemik tersebut justru dapat dijadikan pembelajaran bersama untuk membangun komunikasi publik yang lebih sensitif, inklusif, dan berempati. “Pada akhirnya, isu ini bukan hanya tentang Maudy Ayunda atau tentang mindfulness.
Ini adalah pembelajaran tentang bagaimana pesan kesehatan mental berinteraksi dengan realitas sosial dan ketimpangan pengalaman di tengah masyarakat,” pungkasnya. Nur Ghina menegaskan, masyarakat tetap membutuhkan ruang untuk menjaga kesehatan mental.
Namun, kebutuhan tersebut harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap persoalan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar. Dengan demikian, mindfulness seharusnya menjadi kesadaran untuk memahami diri sendiri, memahami orang lain, sekaligus memahami realitas sosial, bukan menjadi alasan untuk bersikap apatis terhadap keadaan. (RR)
Punya pertanyaan tentang berita ini?
Contoh pertanyaan:
Bagaimana menurut Anda tentang berita ini?
4.7 / 5 dari 3 rating
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Berita Terkait
Nasional
Nur Ghina Muslimah Dorong KPU dan Bawaslu Terbuka dalam Sidang PHPU di MK
Nasional
Nur Ghina Muslimah Soroti Karhutla Kalimantan dalam Diskusi Kebangsaan Nasional: Persatuan Harus Hadir Menjaga Masa Depan Indonesia
Nasional
Jejak Nur Ghina Muslimah, Kader HMI Kalteng yang Membidik Kursi Ketum PB HMI 2026-2028
Nasional