Swarapena dan Walhi Kalteng Selenggarakan Kelas Menulis untuk Perkuat Literasi Kritis
ADMIN VOX MERDEKA
08 September 2025, 12:59 WIB · Diperbarui 10 Oktober 2026 00:07 WIB
VOXMERDEKA.ID, PALANGKA RAYA – Komunitas Menulis Swarapena bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Tengah secara rutin menggelar kelas menulis terbuka untuk umum di Palangka Raya.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengasah kemampuan menulis dan menumbuhkan budaya literasi yang peka terhadap isu lingkungan dan sosial. Penggagas Swarapena, Roni Sahala, menjelaskan bahwa kelas ini lebih dari sekadar forum teknis. “Ini adalah wadah kolektif untuk berbagi pengalaman menulis,” ujar Roni.
Ia berharap, kegiatan ini dapat menumbuhkan literasi kritis di Palangka Raya. Membangun Kemampuan Menulis Beragam Genre Dalam setiap pertemuan, peserta diajak mendalami berbagai aspek teknis penulisan, mulai dari pemilihan kata hingga proses publikasi.
Roni menambahkan, “Jenis tulisan yang kita bahas pun beragam, dari jurnalistik, akademik, sampai sastra. Ruang ini milik bersama, jadi setiap orang punya kesempatan untuk menyampaikan gagasan dan belajar menulis dengan gaya masing-masing,” ujarnya pada Minggu (7/9/2025) malam. Literasi sebagai Bagian dari Gerakan Lingkungan Hidup Manajer Keorganisasian, Pendidikan, dan Monitoring Evaluasi Walhi Kalteng, Tri Oktafiani, menegaskan bahwa penguatan literasi adalah bagian penting dalam memperkuat gerakan lingkungan hidup.
PASANG IKLAN
DI VOX MERDEKA
Jangkau lebih banyak pembaca di seluruh Indonesia
Ia menyoroti rendahnya kemampuan literasi yang berdampak pada melemahnya daya kritis generasi muda dalam membaca realitas sosial dan krisis ekologis. “Kemampuan memahami teks dan mengolah informasi sangat penting agar anak muda tidak hanya membaca, tapi juga bisa menuliskan gagasan tentang lingkungan dan perubahan sosial.
Melalui kelas menulis ini, kami ingin membangun generasi yang lebih peka, kritis, dan berani menyuarakan isu lingkungan,” tegas Tri. Data Memperkuat Pentingnya Literasi Keprihatinan terhadap literasi ini didukung oleh berbagai data.
Studi PISA (Programme for International Student Assessment) menunjukkan sekitar 70 persen siswa di Indonesia memiliki kemampuan literasi rendah.
Bahkan, UNESCO menempatkan Indonesia di peringkat kedua terbawah dunia dalam hal literasi. Data lain dari Riset Central Connecticut State University pada 2016 menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat membaca.
Baca Juga
Karhutla Palangka Raya Capai 817 Kejadian, Luas Terbakar 1.401,90 Hektare
Sementara itu, survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020 menunjukkan hanya 10 persen masyarakat Indonesia yang rajin membaca buku. “Dari keresahan itulah Swarapena lahir, sebagai ruang alternatif untuk menumbuhkan semangat membaca dan menulis, khususnya di kalangan pemuda Palangka Raya.
Literasi bukan hanya soal membaca buku, tapi juga soal kesadaran dan keberanian menulis tentang kenyataan yang dihadapi,” tutup Roni. (R1)
Punya pertanyaan tentang berita ini?
Contoh pertanyaan:
Bagaimana menurut Anda tentang berita ini?
4.3 / 5 dari 3 rating
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Berita Terkait
Palangka Raya
Karhutla Palangka Raya Capai 817 Kejadian, Luas Terbakar 1.401,90 Hektare
Palangka Raya
Kabut Asap Tekan Jarak Pandang Bandara Tjilik Riwut hingga 200 Meter, Penerbangan Tetap Normal
Palangka Raya
Empat Tuntutan Aliansi Masyarakat Resah ke Pertamina soal Krisis BBM Kalteng
Palangka Raya